• Uncategorized
  • 2

Roh Jiwa Raga

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pengetahuan dan pemahaman atas JIWA dan RAGA manusia berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan (sains dan teknologi), namun tidak banyak yang dapat diketahui tentang ROH. Pengetahuan dan pemahaman tentang raga manusia dapat dicapai dengan ilmu kedokteran sedangkan pengetahuan dan pemahaman tentang jiwa� manusia dapat dicapai dengan ilmu kejiwaan. Seorang manusia dikatakan masih hidup apabila Roh DAN Jiwa DAN Raga masih ada/utuh. Jadi sesungguhnya bagaimana korelasi interaktif serta peranan antara Roh, Jiwa dan Raga seorang manusia dan apakah ada pengaruhnya� pada kehidupan manusia tersebut?

Beberapa kenyataan yang kita ketahui mengenai Roh, Jiwa dan Raga seorang manusia antara lain :

  1. Raga manusia dapat tumbuh kembang dan oleh karena itu butuh makan, minum, udara, istirahat, belajar dan aktivitas lainnya. Sarana infrastruktur yang dipakai adalah Panca Indra dengan Otak (Ratio) sebagai pusatnya.
  2. Jiwa manusia dapat tumbuh kembang melalui proses belajar dari pengalaman/hal yang dirasakan oleh manusia tersebut. Sarana infrastruktur yang dipakai adalah Perasaan dengan Hati (bukan Jantung dan bukan Lever�� Mungkin Brain Stem?) sebagai pusatnya.
  3. Roh manusia juga dapat tumbuh kembang dan oleh karena itu butuh �Santapan Rohani�
  4. Kecepatan dan percepatan tumbuh kembang antara raga, jiwa dan roh dari seorang manusia tidak selalu harus sama dan hal ini berkaitan langsung dengan kualitas dan kuantitas santapan mereka secara masing masing.
  5. Pernyataan bahwa �Di dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Sehat� tidak selalu berarti orang yang sedang sakit secara fisik selalu jiwanya sakit.

Berangkat dari point point di atas, berdasarkan persamaan logika yang ada, maka korelasi interaktiv antara Roh, Jiwa dan Raga dari seorang manusia adalah :

  1. Bahwa Otak (Ratio) dan Hati memiliki hubungan otoritas yang sama yang saling mengendalikan. Pengendalian otoritas antara Otak (Ratio) dan Hati yang tidak seimbang akan menjadikan manusia berkarakter extreme.
  2. Bahwa Jiwa memanifestasikan dirinya hanya dengan melalui Raga dalam bentuk karya karya manusia misalnya karya tulis, karya lukis, karya tari, karya masak, karya musik dan karya karya lainnya. Dengan kata lain bahwa apabila raga seorang manusia dinyatakan mati maka sarana untuk me-manifestasi-kan diri dari jiwa orang tersaebut menjadi tidak ada, sehingga dengan demikian jiwa orang tersebut juga berhenti me-manifestasi-kan dirinya.
  3. Tidak seperti Jiwa dan Raga, Roh dalam hal ini sama sekali tidak memiliki kendali otoritas dan sangat bergantung sekali kepada Jiwa dan Raga untuk dapat memanifestasikan dirinya. Dengan kata lain, apabila Roh dari seorang manusia selalu mendapatkan �Santapan Rohani� yang �Bergizi dan Menyehatkan� maka �sinar Nya� akan semakin terang dan pancarannya akan tembus tanpa distorsi melalui jiwa yang sehat (hati yang bersih dan bening) dan selanjutnya tembus melalui raga manusia tersebut dalam bentuk kharisma, tingkah laku, tutur kata, perbuatan dan lain lain.

Di dalam proses tumbuh kembangnya Roh-Jiwa-Raga manusia, ada satu aktifvitas yang dominan dan unik yang memiliki peranan sangat penting yaitu aktivitas �Belajar�. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia mulai �Belajar� sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya. Di dalam proses �Belajar� ini, manusia mengandalkan memori otak untuk menyimpan data/informasi serta program program logika. Besar kecilnya memori otak (volume otak) manusia tersebut berkaitan langsung dan lurus dengan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Oleh karena itu semua manusia adalah sama cerdasnya. IQ yang berbeda hanyalah sebuah representasi dari tingkat pemanfaatan memori otak yang berbeda saja.

Manusia berhenti �Belajar� pada saat meninggal dunia. Begitu juga Roh dan Jiwa manusia tersebut karena tidak ada perangkat keras (Raga) yang dapat menunjang proses belajar mereka secara masing masing. Ibarat sebuah komputer, apabila hardware-nya (Raga) rusak, maka software-nya (Jiwa) juga terhenti pada status terakhir. Begitu juga halnya dengan listrik (Roh) yang ada.

Mudah mengenali seorang manusia secara raga yaitu dengan mengenali ciri ciri tubuh, suara, nama dan lain lain. Sedangkan mengenali seorang manusia secara jiwa adalah melalui karya karyanya. Namun bagaimana membedakan roh seorang manusia yang telah meninggal? Apakah perbedaan roh seorang manusia yang meninggal di tahun 1000 dengan roh manusia yang meninggal di tahun 2000 atau 2009? Lantas untuk apa kita perlu identifikasi tersebut? Atau mungkin kita hanya perlu sekedar membedakan antara roh baik dan roh jahat saja? �.

Semoga bermanfaat.

Salam Damai dan Sejahtera.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *