• Uncategorized
  • 0

Agama (Berita/Ajaran Kebenaran?)

Agama sebagaimana yang kita pahami secara terbatas adalah sebuah pedoman hidup, pedoman moral, aturan tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, pembedaan antara mana yang baik dan tidak baik. Selain dari itu, kita selalu melihat dan menyimpulkan agama kita sendiri maupun agama orang lain (secara kelompok) secara hitam-putih (benar-salah) seolah olah di dunia ini hanya ada dua agama saja yaitu agama yang benar dan agama yang salah.

Lalu disebabkan oleh karena agama yang kita peluk adalah agama yang benar, maka dengan sendirinya agama yang kita tidak peluk menjadi agama yang salah. Padahal pada kenyataannnya, agama yang ada di dunia ini banyak sekali jumlahnya dan bermacam ragam ibarat sebuah lukisan abstrak yang penuh dengan warna warni dan tidak hanya warna hitam dan warna putih belaka saja. Sungguh ironis bukan?

Pada umumnya kita memilih untuk memeluk agama tertentu disebabkan karena beberapa faktor antara lain faktor kondisi lingkungan dan faktor keluarga sehingga kita tidak punya opsi lain. Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri apabila kita diberi kesempatan untuk memilih agama, agama apa yang akan kita pilih dan kenapa memilih agama tersebut serta apa tujuan untuk memeluk agama tertentu?

Sebelum membahas lebih jauh tentang hal tersebut di atas, kami ingin berbagi pengalaman/cerita dengan para pembaca sebagai berikut :

Ada seorang wanita yang ayahnya memeluk agama A sedangkan ibunya memeluk agama B. Sejak dari kecil, sang wanita ini diajari agama A dan agama B secara bersamaan sampai dewasa. Suatu hari, wanita ini bertanya kepada temannya : “Saya tidak tahu agama apa yang saya peluk saat ini, dibilang agama A juga bukan karena saya mengikuti semua ajaran agama B, lalu dibilang agama B juga bukan karena saya mengikuti juga ajaran agama A. Sesungguhnya saya bingung mau memilih agama A atau agama B?”

Sang teman (pemeluk agama B) setelah berpikir sebentar lalu menjawab sebagai berikut :

  1. Pilihlah agama mana yang engkau ketahui/pahami yang paling mengena di hati mu.
  2. Setelah memilih agama tertentu, bukan berarti agama yang engkau tidak pilih menjadi agama yang salah jadinya.
  3. Bisa jadi kamu tidak memilih agama A maupun agama B karena masih ada agama C, D, E, F…..dst.

Pada kejadian lain, ada seorang pria (salesman mobil) yang baru tidak lama pindah dari memeluk agama C ke agama B memberi kesaksian kepada temannya sebagai berikut : “Semenjak saya memilih agama B, karir saya menanjak terus, sekarang saya sudah menjadi sales manager!” Sang teman (pemeluk agama B) mengucapkan selamat atas kenaikan pangkat tersebut lalu memberikan komentar : “Setelah memeluk agama B bukan berarti serta merta membuat agama C menjadi agama yang salah bukan?”

 

Kita sering mencari tau tentang tujuan/ajaran agama tertentu akan tetapi lupa akan mencari tau mengapa kita membutuhkan agama tertentu. Ibarat di proses penjualan/marketing, kita hanya melulu terfokus pada faktor pull (daya tarik) saja ketimbang faktor push (daya dorong). Kita sering hanya terfokus pada ajaran tentang kebenaran hakiki yang ada pada agama sehingga menjadi terjebak pada kebenaran relatif yang pada akhirnya menyimpulkan agama secara hitam-putih (benar-salah).

Lantas, apakah sebenarnya yang kita ingin dapatkan dari memeluk agama kita?  Mendapatkan kebenaran semata atau keadilan atau ketenangan dan kedamaian jiwa atau….? Jawapannya ada pada hati nurani kita sendiri.

Pertanyaan menggelitik : Pilih mana antara menyampaikan berita kebenaran atau menyampaikan berita kebahagiaan?

Semoga bermanfaat.

Salam Damai dan Sejahtera.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *